Senin, 27 Agustus 2018

Pedang lampu


Gemerlap lampu kendaraan kian menyilaukan
Sejauh mata memandang,
Tatapannya sinis menantang
silih berganti menghujani mata ini,
Dengan kilauan tajam yang menusuk dalam
Menyayat dan menikam retina dengan kejam,
Membangkitkan naluri lelaki yang tenang menjadi terntantang untuk melawan
Entah dengan pisau sinar terang dari kuda besi yang aku tunggangi
Atau dengan silat lidah hujatan yang tak kalah tajam.

Oh...  Lampu...

Sebenarnya ini bukan salahmu,  tapi kenapa aku tetap kesal pada dirimu...
Haruskah aku menghantammu dengan batu,
atau membiarkanmu diperalat untuk menyerangku dengan seenak jidat empu-mu
entahlah aku tak tahu,
Jika itu sudah menjadi suratanmu,
Apalah daya diriku.
Tugasku cukup belajar memahami dan memaklumi
Akan kepasrahan dan ketidak berdayaan dirimu dihadapan tuanmu
Meski untuk menyakiti pandanganku ataupun yang selain diriku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Prof. DR. Ngainun Naim, M. H. I.

Sebelum saya menceritakan beberapa kanangan saya terkait dengan Prof. DR. Ngainun Naim, M. H. I, saya ingin terlebih dahulu mengucapkan ...