Selasa, 07 Juli 2020

Ya sudahlah (dunia)

kemarin (6 juli 2020) saya membuka akun facebook saya. Pada saat saya sedang membuka dan men-skrol laman beranda, saya menemukan status yang baru saja di upload oleh paman –yang telah menjadi teman –saya di facebook. Status beliau membahas tentang hadits di bawah ini:

اعمل للدنيك كانك تعيش ابدا, واعمل للاخرتك كانك تموت غدا
“I’mal liddunyaka ka annaka ta’isyu Abadan, wa’mal lil akhirataka ka annaka tamutu ghodan”
Berbuatlah untuk duniamu seakan –akan kamu hidup abadi, dan berbuatlah untuk duniamu seakan –akan kamu meninggal besok.

Hadits di atas beliau tafsirkan dengan pendapat yang jauh berbeda dari pemahaman saya selama ini. Beliau mengatakan bahwa makna dari “berbuatlah untuk diduniamu seakan –akan kamu hidup selama –lamanya” adalah jika tidak selesai dalam urusan hari ini, maka jangan khawatir, karena masih ada hari esok. Jangan terlalu stress dengan keruwetan permasalahan hari ini, uraikan satu –persatu. Jika tidak selesai hari ini maka dianjutkan esok hari, dan jika besok belumm bisa selesai juga maka masih ada besok lusa.

Berdasarkan dari status tersebut, saya pun mulai tersadar dan sedikit lebih memahami tentang maksud lain dari penafsiran hadits tersebut. Selama ini saya hanya mengimani tanpa memahami bagaima praktis atau empirisnya tentang penafsiran atau teori yang dijelaskan oleh guru –guru saya. Mungkin karena ketika guru saya menyampaikaan saya sedang ngantuk atau tidak konsentrasi. Tapi itu yang saya tangkap dan berusaha saya imani sebagimana yang diimani oleh banyak orang.

Karena cuku penasaran, saya pun langsung mencari beberapa pendapat yang relefan di google. Dan dari hasil penjelajahan saya, saya terhenti pada laman salah satu website –maaf saya lupa nama alamatnya –yang menceritakan pendapat dari salah seorang ulama yang bernama Syaikh Muhammad bin shalih Al –Utsaimin ra. Beliau sangat singkat dan padat dalam memberikan pendapat namun langsung membahas pada inti permasalahan. Keren.

Syaikh Muhammad bin shalih Al –Utsaimin ra mengatakan bahwa hadits di atas berstatus maudlu’ (palsu). Namun demikian, kalimat tersebut sudah lama dan masif menyebar hampir keseluruh penjuru umat muslim. Bahkan tidak jarang yang menggunakan kalimat di atas sebagai prinsip hidup.

Kalimat di atas menurut Syaikh Muhammad bin shalih Al –Utsaimin memiliki makna yang multi tafsir, kecuali kalimat kedua. Untuk kalimat kedua maknanya sudah jelas bahwa waktu kita sangat sedikit sebelum menuju akhirat. Oleh karena itu jangan sia –siakan waktumu. Bergegas dan bersungguh –sungguhlah dalam mengumpulkan bekal untuk menuju akhirat, paling tidak untuk hari ini dan saat ini juga.

Sedangkan untuk kalimat yang pertama, memiliki dua makna (tafsiran) yaitu: 1. Anjuran untuk semangat bekerja, berkarya, dan berusaha sekuat tenaga untuk menggapai cita –cita yang telah ditautkan ke tiang harapan yang sangat tinggi. karena menganggap kehidupan ini akan abadi, maka perjuangkanlah itu untuk menyongsong hari esok ataupun demi masa depan yang cerah atau untuk kenyamanan dimasa tua dan sebagainnya. 2. Anjuran untuk tdak terlalu terburu –buru dan tidak telalu mengambil pusing kegagalan hari ini karena masih ada esok hari.

Berdasarkan dari penafsiran di atas, saya menyimpulkan bahwa hadits atau kalimat mutiara diatas sangat baik jika digunakan dalam kehidupan sehari –hari berdasarkan pada penafsiran yang ke dua. Karena tidak bertentangan dengan dali –dalil anjuran ke –zuhudan terhadap dunia. Dan itulah sebenarnya hubungan hukum islam antara yang satu dengan yang lainnya saling mengisi dan saling melengkapi jika pemahaman dan penafsirannya benar.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Prof. DR. Ngainun Naim, M. H. I.

Sebelum saya menceritakan beberapa kanangan saya terkait dengan Prof. DR. Ngainun Naim, M. H. I, saya ingin terlebih dahulu mengucapkan ...